Al Hikmah : Kisah
Kucing dalam Dunia Islam
Cute-pet-06Kucing,
jenis mammalian yang memiliki nama latin felix silvestris catus ini telah
menjadi sahabat manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Tingkah laku nya yang
manja dan menggemaskan telah mendapat tempat dihati banyak orang.
Mitos disekitar keberadaan
Kucing
Banyak mitos yang
bertebaran disetiap kehidupan kucing mulai dari memiliki 9 nyawa hingga sebagai
jelmaan dewa. Seperti yan terjadi pada masa dinasti Fir’aun 3000 tahun yang
lalu, kucing amat dipuja karena dianggap sebagai titisan dewa. Lain di Mesir
lain pula di Eropa, di dataran ini kucing dianggap sebagai sihir setan atau
pembawa bencana. Tak pelak lagi, pada masa abad kegelapan terjadi pemusnahan
besar-besaran terhadap hewan lucu ini, hingga menyebar ke Afrika Utara.
Padahal, wabah yang oleh masyarakat saat itu dianggap sebagai kutukan adalah
jenis penyakit pes yang diakibatkan oleh meledaknya populasi tikus dan
penurunan populasi kucing sebagai predator.
Cerita Nabi Muhammad
SAW dan Kucingnya.
Didalam perkembangan
peradaban islam, kucing hadir sebagai teman sejati dalam setiap nafas dan gerak
geliat perkembangan islam.
Diceritakan dalam
suatu kisah, Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza.
Suatu saat, dikala nabi hendak mengambil jubahnya, di temuinya Mueeza sedang
terlelap tidur dengan santai diatas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan
kesayangannya itu, nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari
jubahnya. Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk sujud
kepada majikannya. Sebagai balasan, nabi menyatakan kasih sayangnya dengan
mengelus lembut ke badan mungil kucing itu sebanyak 3 kali.
Dalam aktivitas lain,
setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, nabi selalu menggendong mueeza dan
di taruh dipahanya. Salah satu sifat Mueeza yang nabi sukai ialah ia selalu
mengeong ketika mendengar azan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti
mengikuti lantunan suara adzan.
Kepada para
sahabatnya, nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya
menyanyangi keluarga sendiri.
Hukuman bagi mereka
yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah serius, dalam sebuah hadist shahih Al
Bukhori, dikisahkan tentang seorang wanita yang tidak pernah memberi makan
kucingnya, dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi
SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah siksa neraka.
Tak hanya nabi, istri
nabi sendiri, Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq pun amat menyukai kucing, dan
merasa amat kehilangan dikala ditinggal pergi oleh si kucing. Seorang sahabat
yang juga ahli hadist, Abdurrahman bin Sakhr Al Azdi diberi julukan Abu
Hurairah (bapak para kucing jantan), karena kegemarannya dalam merawat dan
memelihara berbagai kucing jantan dirumahnya.
Penghormatan para
tokoh islam terhadap kucing pasca wafatnya Nabi SAW.
Dalam buku yang
berjudul Cats of Cairo, pada masa dinasti mamluk, baybars al zahir, seorang
sultan yang juga pahlawan garis depan dalam perang salib sengaja membangun
taman-taman khusus bagi kucing dan menyediakan berbagai jenis makanan
didalamnya. Tradisi ini telah menjadi adat istiadat di berbagai kota-kota besar
negara islam. Hingga saat ini, mulai dari damaskus, istanbul hingga kairo,
masih bisa kita jumpai kucing-kucing yang berkeliaran di pojok-pojok masjid tua
dengan berbagai macam makanan yang disediakan oleh penduduk setempat.
Pengaruh Kucing dalam
Seni Islam.
Pada abad 13, sebagai
manifestasi penghargaan masyarakat islam, rupa kucing dijadikan sebagai ukiran
cincin para khalifah, termasuk porselen, patung hingga mata uang. Bahkan di
dunia sastra, para penyair tak ragu untuk membuat syair bagi kucing
peliharaannya yang telah berjasa melindungi buku-buku mereka dari gigitan tikus
dan serangga lainnya.
Kucing yang memberi
inspirasi bagi para sufi.
Seorang Sufi ternama
bernama ibnu bashad yang hidup pada abad ke sepuluh bercerita, suatu saat ia
dan sahabat-sahabatnya sedang duduk santai melepas lelah di atas atap masjid
kota kairo sambil menikmati makan malam. Ketika seekor kucing melewatinya, Ibnu
Bashad memberi sepotong daging kepada kucing itu, namun tak lama kemudian
kucing itu balik lagi, setelah memberinya potongan yang ke dua, diam-diam Ibnu
Bashad mengikuti kearah kucing itu pergi, hingga akhirnya ia sampai disebuah
atap rumah kumuh, dan didapatinya si kucing tadi sedang menyodorkan sepotong
daging yang diberikan Ibnu Bashad kepada kucing lain yang buta kedua matanya.
Peristiwa ini sangat menyentuh hatinya hingga ia menjadi seorang sufi sampai
ajal menjemputnya pada tahun 1067.
Ada juga cerita
tentang seorang sufi di Iraq yang bernama Shibli, ia bermimpi dosa-dosanya
diampuni setelah menyelamatkan nyawa seekor anak kucing dari bahaya.
Selain itu, kaum sufi
juga percaya, bahwa dengkuran nafas kucing memiliki irama yang sama dengan
dzikir kalimah Allah.
Cerita yang dijadikan
sebagai sauri tauladan
Salah satu cerita
yang cukup mahsyur yaitu tentang seekor kucing peliharaan yang dipercaya oleh
seorang pria, untuk menjaga anaknya yang masih bayi dikala ia pergi selama
beberapa saat. Bagaikan prajurit yang mengawal tuannya, kucing itu tak hentinya
berjaga di sekitar sang bayi. Tak lama kemudian melintaslah ular berbisa yang
sangat berbahaya di dekat si bayi mungil tersebut. Kucing itu dengan sigapnya
menyerang ular itu hingga mati dengan darah yang berceceran.
Sorenya ketika si
pria pulang, ia kaget melihat begitu banyak darah di kasur bayinya.
Prasangkanya berbisik, si kucing telah membunuh anak kesayangannya! Tak ayal
lagi, ia mengambil pisau dan memenggal leher kucing yang tak berdosa itu.
Tak lama kemudian, ia
kaget begitu melihat anaknya terbangun, dengan bangkai ular yang telah tercabik
di belakang punggung anaknya. melihat itu, si pria menangis dan menyesali
perbuatannya setelah menyadari bahwa ia telah mebunuh kucing peliharaannya yang
telah bertaruh nyawa menjaga keselamatan anaknya. Kisah ini menjadi refleksi
bagi masyarakat islam di timur tengah untuk tidak berburuk sangka kepada
siapapun.
Adakah manfaat kucing
bagi dunia ilmu pengetahuan?
Salah satu kitab
terkenal yang ditulis oleh cendikia muslim tempo dulu adalah kitab hayat al
hayaawan yang telah menjadi inspirasi bagi perkembangan dunia zoologi saat ini.
Salah satu isinya mengenai ilmu medis, banyak para dokter muslim tempo dulu
yang menjadikan kucing sebagai terapi medis untuk penyembuhan tulang, melalui
dengkuran suaranya yang setara dengan gelombang sebesar 50 hertz. Dengkuran
tersebut menjadi frekuensi optimal dalam menstimulasi pemulihan tulang.
Tak hanya ilmu
pengetahuan, bangsa barat juga banyak membawa berbagai jenis kucing dari timur
tengah, hingga akhirnya kepunahan kucing akibat mitos alat sihir di barat dapat
terselamatkan.
Dikutip dari berbagai
sumber (ex. Sebaris Kata dari Al Hikmah)

No comments:
Post a Comment